Senin, 31 Desember 2012

Makna Pergantian Tahun

Seyogyanya, pergantian tahun dimaknai tidak dalam arti pergantian angka pada kalender semata sehingga seolah perayaan tahun baru adalah perayaan pergantian kalender atau almanac semata.  Malah mungkin sebagian banyak orang yang merayakan pergantian tahun tersebut justru tidak memahami makna dari bergantinya tahun tersebut.  Padahal kalau kita mau sedikit meluangkan waktu sejenak maka orang akan takut menghadapi pergantian tahun. 
Dalam pergantian tahun, sebenarnya terkandung berbagai makna yang dalam bagi orang-orang yang mau merenungkannya.  Pergantian tahun yang terjadi berarti berkurangnya jatah hidup kita di dunia ini.  kalau kita merenung, bukanlah perayaan yang harus dilakukan menjelang pergantian tahun namun justru rasa syukur karena kita telah diberi amanat untuk masih bisa merasakan tahun lalu dan kekhawatiran tahun ini adalah tahun terakhir kita hidup di dunia ini.  masa lalu bukanlah sesuatu yang harus dirayakan dengan besar-besaran namun justru harus dimaknai sebagai media introspeksi diri. 
Malam tahun baru selayaknya setiap orang berhenti beraktifitas dan kemudian menyendiri untuk menakar dan menimbang lalu melakukan evaluasi sejauh mana kita memaknai kehidupan yang telah lalu tersebut.  Renungan ini penting supaya setiap tahun yang kita lewati memiliki makna dan arti bagi setiap pribadi dan orang lain.  Dinamika hidup yang cepat dan mobilitas yang tinggi sudah sangat mengikis nilai-nilai kemanusiaan kita selama ini.  Target hidup, ambisi yang tersembunyi dan nampak, system dunia kerja yang mekanistik, tujuan hidup yang berorientasi fisik dan jasmaniah telah sangat jauh melemparkan manusia dari hakekat tujuan keberadaannya di muka bumi ini.  jangankan untuk memaknai eksistensinya sendiri, bahkan sekedar untuk menikmati indah dunia itu sendiri sudah mulai lupa.
Disaat bekerja, manusia sudah bukan lagi sebagai makhluk yang sedang mengaktualisasikan dirinya untuk memberikan manfaat kepada diri dan orang lain, namun telah berubah menjadi mesin dari sebuah mesin kapitalisme yang tujuannya hanya untuk mencapai keuntungan dan upah semata.  Hubungan inter dan antar personal telah berubah menjadi hubungan untung rugi atau membawa manfaat atau tidak.  Seorang atasan memandang bawahannya sebagai sekrup dari mesin produksi yang bisa disimpan, diganti atau bahkan dibuang apabila sudah tidak lagi memberikan laba yang berarti.  Grafik dan statistic dari neraca perusahaan menjadi sarana dan masukan dalam menilai arti sebuah makhluk bernama manusia.  Seorang bawahan memandang atasan tidak lebih dari tuhan-tuhan kecil yang dinilai sangat menentukan kehidupannya.  Untuk mendapatkan restu dan kepastian hidupnya, mereka rela menjadi hamba sahaya, budak bahkan tidak lebih dari alas kaki atasan demi jaminan pemenuhan kebutuhan dasar semata.
Di dalam keluarga, anggota keluarga menjadi orang yang asing satu sama lain karena sudah mulai terkotak oleh peran dan tanggung jawab yang dipisahkan secara menejerial.  Rumah tangga pun tidak lebih dari perusahaan kecil yang melulu bicara dan menghitung jumlah pendapatan dan pengeluaran.  Surplus, balance dan deficit menjadi alat ukur kebahagaiaan dan kesejahteraan.  Ketika suami mampu menjalankan perannya sebagai sumber pendapatan utama, isteri berperan sebagai pengelola keuangan dan anak-anak tidak lebih dari anak kecil yang harus menjadikan impian orang tuanya terwujud.   Yang paling menyedihkan adalah terkikisnya hubungan anggota keluarga sebagai hubungan pertalian darah dan berganti menjadi hubungan yang dibalut dan diselubungi oleh hubungan kewajiban semata.  Seorang ayah merasa telah menunaikan kewajibannya kepada anak isterinya ketika sudan merasa mampu memenuhi kebutuhan dari aspek ekonomi dan menyerahkan kebutuhan lainnya kepada mereka masing-masing untuk mencarinya.  Atau seorang ibu merasa telah penuh memangkul kewajibannya ketika berhasil melahirkan dan member mereka makanan dan pakaian.  Sementara anak merasa telah menunaikan kewajibannya ketika sudah mentaati orang tua.
Begitu juga dalam menjalani hidup.  Manusia sudah mulai lupa dengan makna hidup itu sendiri.  Sebenarnya, pergantian tahun adalah sarana untuk kembali menata hidup.  Mungkin istilah ini agak sulit dipahami, namun yang jelas benarkah kita selama ini telah melewati hidup ini dengan benar.  Indikatornya sederhana, bahagiakah kita selama ini?  atau mungkin untuk mendefinisikan kebahagiaan itu sendiri kita sudah lupa!
Terserah orang mau menafsirkan arti bahagia, namun yang jelas tentunya kita berharap kebahagiaan itu benar-benar dinikmati dengan penuh kesadaran.  Hal itu penting karena manusia sudah sedemikian dalam masuk ke dalam sebuah mekanisme kerja laksana mesin, maka moment tahun baru sudah selayaknya dan seharusnya dijadikan waktu untuk berhenti sejenak dan melakukan refleksi diri apakah hidup kita  sudah benar dalam jalur yang kita tetapkan sejak awal.  Contohnya adalah dalam memaknai kembali arti bekerja, berkeluarga dan memahami hidup dalam kesadaran penuh.
Sudahkah kita menempatkan kerja sebagai media aktualisasi diri dalam pergaulan social sehingga kita memandang kerja tidak semata bergerak dan digerakkan oleh keuntungan dan upah semata.  Bekerja adalah menempatkan manusia pada proses untuk memberikan manfaat tidak saja kepada diri, namun juga kepada orang lain apakah itu isteri dan anak, keluarga, masyarakat sekitar atau bahkan kepada kemanusiaan itu sendiri.  Bekerja/berusaha yang dilandasi oleh hubungan kemanusiaan mungkin terasa sangat naïf dan sulit dilakukan dalam kerangka masyarakat yang dipisahkan oleh pembagian kerja, system hierarki  dan kepemilikan modal.
Mungkin saatnya kini kita memulai sebuah relasi kerja yang lebih menekankan hubungan kemanusiaan dimana kerja dan usaha berputar dan berpusat pada pemaknaan “ibadah” karena sehebat apapun kita meraih keuntungan, toh pada akhirnya tidak akan pernah kita nikmati disaat kita mati.  Dan pemaknaan arti bekerja dan usaha justru ketika lingkungan kita bisa merasakan manfaat dari keberadaan kita melalui karya nyata kita baik berupa barang maupun jasa.  Bekerja bukan semata upaya memenuhi kebutuhan dasar manusia, nmun juga sebagai proses pencarian makna hidup itu sendiri.
Begitu juga dalam ikatan keluarga.  Keluarga bukanlah sebuah hubungan yang hanya dilandasi ikatan kewajiban, namun lebih dari itu adalah sebuah ikatan emosi dan perasaan.  Sebuah ikatan sacral yang telah disepakati tidak hanya oleh dua individu tapi oleh dua “dunia” yang berbeda.  Sebuah penyatuan dari dua jiwa yang memiliki karakter dan perbedaan pada setiap pori-pori tubuhnya.  Dua ruh yang menyatu dalam ikatan pernikahan akan menjadi nyata ketika lahir seorang anak.
Anak bukan semata satu individu yang terlahir dari sebuah ketidaksengajaan atau takdir semata.  Anak adalah sebuah bukti dari ikatan yang dibuat dalam balutan kasih sayang.  Seharusnya dan selayaknya, anak menjadi muara sekaligus hulu dari makna keberadaan kita sebagai manusia. 
Anak tidak semata individu yang terpisah dari orang tua, sehingga tidaklah layak orang tua hanya berbicara masalah kewajiban anak dan hak orang tua, namun juga harus bicara hak anak dan kewajiban orang tua.  Dan itupun bukan selalu dalam konteks ekonomi dan biologis, namun yang sering dilupakan adalah factor afeksi, kasih sayang, perhatian, belaian dan pujian serta arahanlangsung dari orang tua sebagai “sekolah” pertama anak dalam bersosialisasi. 
Oleh karena itu, marilah kita jadikan moment tahun baru menjadi saat yang tepat untuk melakukan tata ulang kehidupan kita menuju kea rah yang lebih baik.

Senin, 26 November 2012

Sang Guru

Guru adalah ujung tombak dunia pendidikan. Di tangan gurulah maju mundurnya pendidikan. Ia mewakili orang tua di sekolah, membimbing, mengarahkan dan memandu peserta didiknya kearah kedewasaan dan kemandirian. Sebagai sosok yang menjadi panutan, sudah selayaknya guru memiliki moral yang baik, intelektual yang tinggi dan profesional. Sehingga dengan demikian menempatkannya pada sosok yang digugu (ditaati) dan ditiru oleh siswa, bahkan oleh masyarakat.
Dalam khazanah pemikiran Islam, istilah guru memiliki beberapa istilah, seperti ustad, muallim, muaddib dan murabbi. Beberapa istilah untuk sebutan guru itu terkait dengan beberapa istilah untuk pendidikan, yaitu ta’lim, ta’dib dan tarbiyah.
  • Muallim lebih menekankan guru sebagai pengajar dan penyampai pengetahuan (knowledge) dan ilmu (science).
  • Muaddib lebih menekankan guru sebagai pembina moralitas dan akhlak peserta didik dengan keteladanan.
  • Murabbi lebih menekankan pengembangan dan pemeliharaan baik aspek jasmaniah maupun ruhaniah.
Sedangkan istilah yang umum dipakai dan memiliki cakupan makna yang luas dan netral adalah ustad yang dalam bahasa indonesia diterjemahkan sebagai guru.
Kemuliaan guru tercermin dalam hadis Nabi dan perkataan Ulama: “Tinta para ulama lebih baik dari darahnya para syuhada”. Sedangkan penyair Syauki berkata: “Berdiri dan hormatilah guru dan berilah penghargaan, seorang guru itu hampir saja merupakan seorang rasul”.
Seorang guru yang meniti karier sebagai pendidik, pengajar, peneliti dan sebagainya, memerlukan profesionalitas. Profesionalitas guru adalah memilki jiwa profesional dengan seperangkat kepakaran khusus melalui jenjang pendidikan atau training yang dilegalkan dengan sertifikat oleh suatu lembaga  atau institusi. Terdapat sejumlah karakteristik guru yang profesional, yaitu: 
   1. Komitmen yang kuat terhadap profesi / karier. 
   2. Bertanggung jawab 
   3. Terbuka menerima ide-ide baru 
   4. Komitmen pada pekerjaan 
   5. Konsisten pada setiap orang 
   6. Berperilaku teladan 
   7. Berorientasi terhadap pelayanan pendidikan 
   8. Memiliki kode etik

Disamping itu mereka adalah pribadi yang memiliki sejumlah kemampuan dan kreatifitas untuk:
Mengembangkan norma kolaborasi 
1. Mampu bekerjasama dalam masyarakat 
2. Mampu berdiskusi tentang strategi baru 
3. Mampu memecahkan masalah 
4. Mampu mengajar 
5. Mampu mengumpulkan dan menganalisis data 
6. Mampu mencari dan melihat masalah serta meningkatkan kemampuan 
    pribadi untuk menanganinya
7. Mampu saling mendorong dan memberikan bantuan pada setiap pemecahan masalah
8. Memiliki tanggung jawab sosial
9. Memiliki tanggung jawab moral
10. Memiliki tanggung jawab keilmuan

Sabtu, 24 November 2012

Ketulusan Hati Rasulullah SAW dalam Bersedekah

Kisah nyata ini terjadi di saat masa kenabian Muhammad saw, kala itu Islam telah berjaya dan mulai mendapatkan tempat hampir diseluruh dunia. Dalam kemenangan Islam yang mampu berjaya tersebut tentunya menuai kontradiksi dari berbagai element terkhusus dari kalangan orang-orang Yahudi dan Nasrani yang menjadi musuh bagi umat Islam kala itu. Dalam masa kejayaan tersebut, Rasulullah mendengar bahwa ada seorang pengemis Yahudi yang buta disetiap harinya mencaci maki, mengolok-olok serta memfitnah beliau. Mendengar berita tersebut bukan Rasulullah marah dan murka terhadap pengemis tersebut, justru beliau mendatanginya dengan belas kasih meskipun cacian dan cercaan beliau dapatkan. Pengemis tersebut selalu menjelek-jelekan Rasul di depan semua orang yang dijumpainya, hingga tersebar di seluruh Madinah. Rasul sebagai sang tauladanpun kala itu mendatangi pengemis tersebut dengan kasih sayang dan memberikan makanan kepadanya tanpa diketahui oleh pengemis tersebut yang mengasihinya adalah Rasul yang notabenenya kala itu adalah pemimpin umat Islam dan Negeri. Setiap pagi Rasul mendatanginya dengan membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu dan kejadian terus berlangsung hingga bertahun-tahun hingga beliau wafat meninggalkan semua umat Islam. Dengan kewafatan Rasul secara otomatis tiadak ada lagi orang yang mengasihi pengemis tersebut seperti yang dilakukan oleh Rasulullah semasa hidup, dan kala itu pengemis itupun menjadi orang yang terbuang seperti sebelumnya.
Fenomena tentang kedermawanan dan kehebatan welas ashih Rasul terungkap ketika Abu Bakar Shidiq RA yang kala itu menggantikan Rasul menjadi khalifah mendatangi rumah Aisyah RA dan bertanya tentang amalan apa yang belum ia lakukan mengingat setiap apa yang dilakukan oleh rasul selalu ia ikuti dan patuhi. "Anakku, adakah kebiasaan Rasulullah SAW yang belum aku kerjakan?". Aisyah RA menjawab,"Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah dan hampir tidak ada satu kebiasaannya pun yang belum ayah lakukan kecuali satu saja." Apakah Itu?, tanya Abubakar RA. "Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada disana," kata Aisyah RA.
Mendengar apa yang disampaikan oleh Aisyah tersebut, tanpa berbasa-basi Abu Bakar keesokan harinya dikala pagi menjelang, beliau pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abu Bakar mendatangi pengemis itu lalu memberikan makanan itu kepadanya. Nah, dikala Abubakar mulai menyuapinya ada sebuah kejadian yang aneh, dimana si pengemis justru marah dengan perlakuan Abu Bakar seraya berkata, "Siapakah kamu? ".Abubakar RA menjawab, "Aku orang yang biasa mendatangi engkau." "Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku," bantah si pengemis buta itu. Seraya berkata kepada Abu Bakar "Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut, setelah itu ia berikan padaku," pengemis itu melanjutkan perkataannya. "lagipula roti yang kumakan sangat enak rasanya bukan yang seperti ini."
Mendengar pengakuan dari pengemis tersebut alangkah kaget dan bergetarnya hati Abu Bakar hingga tak kuasa menahan air matanya, lalu berkata kepada pengemis tersebut, "Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW." Mendengar apa yang dikatakan oleh Abu Bakar pengemis itupun kaget bukan main dan menangis menjerit-jerit, mengingat orang yang selama ini ia cerca dengan caci maki dan fitnah menjadi satu-satunya orang yang mengasihinya dikala orang lain membuangnya. Dengan nada sedih, pengemis itu berkata, "Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya dengan hinaan yang tak sepantasnya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, ia begitu mulia....". menurut riwayat pengemis tersebut pun masuk ke agama Islam dengan mengucap dua kalimat syahadat di hadapan Abubakar RA dan sejak hari itu menjadi muslim.
Sungguh luar biasa bukan apa yang dilakukan oleh Rasulullah, dikala ada orang yang memfitnah dan menngolok-olok beliau yang kala itu sebagai khalifah tidak membuat beliau murka, melainkan justru memberikan welas asih hingga sang pengemis dengan kerelaan hatinya menganut agama Islam dengan penuh kesadaran dalam jiwa. Bahkan hebatnya kala itu tidak banyak orang yang tahu, melainkan hanya Aisyah seorang, dimana kala itu Abu Bakar yang notabenenya adalah sahabat Nabi yang selalu mengikuti gerak dan langkah Rasul pun tidak mengetahuinya. Sifat welas asih Rasul yang ditunjukan kepada pengemis Yahudi tersebut sungguh amat luar biasa, mana ada sih orang yang seperti itu. Dikala ada orang yang selalu menjelek-jelekkan dan memfitnah dirinya bahkan parahnya terus berulang hingga hampir setiap penduduk negeri mengetahuinya justru dibalasnya dengan kasih sayang yang luar biasa, selain memberikan makanan yang enak, masih juga mamah (hasulkan) dengan mulutnya sendiri karena sang pengemis tidak bisa memakan yang keras. Ada tidak orang seperti Rasul, mungkin hanya ada satu di dunia ini.

Kamis, 22 November 2012

10 Cara Menjadi Pelajar Berprestasi

Pengertian Prestasi :
Menurut Adi Negoro, prestasi adalah segala jenis pekerjaan yang berhasil dan prestasi itu menunjukkan kecakapan suatu bangsa. Kalau menurut W.J.S Winkel Purwadarmtinto, “ prestasi adalah hasil yang dicapai “ dari pengertian diatas maka prestasi bisa didefinisikan adalah sebuah usaha, pekerjaan (Seperti belajar) yang dilakukan dengan sunguh-sunguh sehingga mencapai hasil yang terbaik dan maksimal.
Pengertian Prestasi Belajar :
Prestasi adalah hasil yang telah dicapai seseorang dalam melakukan kegiatan. Gagne (1985:40) menyatakan bahwa prestasi belajar dibedakan menjadi lima aspek, yaitu : kemampuan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, sikap dan keterampilan. Menurut Bloom dalam Suharsimi Arikunto (1990:110) bahwa hasil belajar dibedakan menjadi tiga aspek yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.
Bagaiaman Menjadi Pelajar berprestasi?
Menjadi pelajar yang berprestasi adalah dambaan setiap orang, namun tidak semua orang bisa menjadi orang berprestasi. Prestasi belajar sesunggunya bisa di capai oleh semua orang tak mengenal ia kaya,miskin, orang yang berasal dari kota atau pedesaan semuanya bisa berprestasi. Di bawah ini beberapa hal yang harus dilakukan agar kita menjadi orang berprestasi :

1. Sucikan Niat/Luruskan niat
Dalam ajaran Islam niat merupakan hal yang utama apabila sesorang akan melakukan pekerjaan atau aktvititas, terlebih aktivitas yang berhubungan yang bernilai ibadah. Mencari ilmu atau belajar dalam Islam adalah sebuah kewajiban yang telah ditentukan ketika manusia lahir sampai dengan masuk liang lahat kembali, serta mencari ilmu juga merupakan ibadah. Jadi mari kita luruskan niat kita dalam belajar selain untuk menambah wawasan juga adalah untuk ibadah kepada Allah.
2. Kesungguhan Dalam belajar
Menjadi pelajar yang berprestasi memerlukan kesungguhan dalam belajar, dalam Islampun dijarkan barang siapa yang bersunguh-sunguh maka ia akan berhasil. Oleh sebab itu sekolah bukanlah sekedar untuk bermain, mencari teman, Jajan dan lain sebagainya tetapi sekolah adalah aktvititas belajar yang memerlukan kesungguhan.
3. Disipin dalam menggunakan Waktu
Time Is money atau waktu adalah pedang, beberapa Istilah ini sangat populer dalam kehidupan kita sehingga orang barat sering mengatakan waktu adalah uang, oleh sebab itu mereka tak ingin menggunakan waktu dengan sia-sia. Disiplin dalam menggunakan waktu merupakan hal yang utama untuk mecapai sebuah keberhasilan secerdas dan sekaya apapun kita tanpa displin maka prestasi itu takan pernah kita bisa capai. Disiplin dalam waktu harus kita lakukan dalam kehidupan sehari mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Cobalah kita buat agenda kita seperti mulai dari aktivitas tidur, sholat, mengaji, belajar, bermain, berolahraga, ikut les dan lain sebagainya, apabila jadwal ini bisa kita lakukan dengan disiplin insyaallah kita akan menjadi orang –orang yang berprestasi.
4. Percaya diri
Percaya diri merupakan hal yang penting bagi setiap orang, karena kita harus percaya pada kemampuan yang kiti milki. Banyak orang yang tidak percaya diri karena merasa dirinya tidak padai, sehingga akhirnya harus tergantung pada orang lain. Setiap orang sesungguhnya harus merasa percaya dengan kemampuan yang dimilkinya betatapun hasil prestasinya tidak sebagus yang dicapai orang lain tetapi itulah hasil maksimal dari percaya diri yang dimilki.
5. Tentukan Target
Pada perjalana setiap manusia tentu selalu punya tujuan kemana kita akan melangkah dan apa yang akan kita lakukan. Jika kita ingin memilki prestasi maka kita harus memilki target dalam belajar, berapa nilai yang harus kita capai. Misalnya kita memiliki target nilai Matekmatika 80, Bahasa Indonesia 90, menang kejuaran olimpiade, kejuaran Futsal dan lain-lain sebagainya. Semua target yang sudah kita tentukan harus dilakukan secara maksimal agar target-target tersebut bias tercapai.
6. Tumbuhkan Motivasi
Motivasi atau dorongan perlu dimilki oleh setiap orang baik motivasi dari diri sendiri ataupun dari orang lain. Pelajar yang berprestasi adalah pelajar yang memiliki motivasi besar untuk maju, maka dia akan selalu memberi semangat pada hatinya untuk semangat dalam belajar.
7. Ikuti kegiatan berorganisasi dan Ekstrakulikuler
Berorganisasi merupakan hal yang menyenangkan agapan organisasi dapat mengganggu pelajaran adalah anggapan yang salah. Justru banyak orang yang berprestasi dengan berorganisasi, para pemimpin negeri ini atau para intelektual yang ada pada bangsa ini juga adalah para alumni organisasi baik organisasi kesiswaa, mahasiswa, masyarakar, pemuda dan lain-lain. Ikut berorganisasi dapat melatih kemandirian,disiplin dan kepekaan siswa dalam hidup ber sosial. Bagi para pelajar yang ikut organisasi juga mempunyai prestasi merupakan sebuah kebanggaan tersendiri.
8. Kita semua punya prestasi
Sesungguhnya setiap diri kita memilki prestasi karena prestasi itu bukan dilihat dari kemampuan itelektual atau kognitif saja, tetapi setiap kelebihan yang kita milki dan berguna bagi orang banyak adalah prestasi juga. Ingat tak mungkin Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sama, oleh karena itu dalam prestasipun kita memilki perbedaan ada yang berprestasi dalam akademik, kesenia, olahraga dan lain sebagainya.
9. Minta doa dari orang tua
Ridho Allah tergantung ridho orang tua, jadi mintalah doa dari orang tua dalam setiap langkah yang kita lakukan Agar Allah memberi kemudahan dalam aktivitas belajar kita.
10. Sholat dan berdoa
Segala Ikhtiar atau usaha sudah kita Lakukan yang terakhir adalah kewajiban kita melaksanakan perintah Allah salah satunya adalah sholat dan berdoa, semoga semakin sering kita mendekatkan diri kita pada Allah semakin Allah memberi kemudahan kepada kita.

Selasa, 20 November 2012

Keutamaan Puasa 'Asyura


Mungkin bulan-bulan yang sering kita dengar adalah bulan-bulan pada penanggalan kalender masehi. Namun sebagai seorang muslim, kita harus mengetahui bulan-bulan yang ada pada penanggalan kalender hijriyah. Dan di dalam kalender hijriyah, terdapat empat bulan yang disebut bulan-bulan haram.

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram…” (QS. At-Taubah: 36) Ada pun bulan-bulan yang telah Allah tetapkan sebagai bulan haram adalah bulan Rajab, Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram.
Insyaa Allah pada kesempatan kali ini, kita akan membahas suatu amalan yang agung, yang terdapat di dalam salah satu di antara bulan-bulan yang haram. Amalan tersebut adalah Puasa ‘Asyura yang jatuh pada tanggal sepuluh di bulan Muharram.
Keutamaan Amalan Puasa
Sebelum membahas keutamaan Puasa ‘Asyura, sungguh puasa itu sendiri adalah amalan yang Allah sendiri akan membalasnya, dan dilipatkan gandakan tanpa batas pahalanya. Bacalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (yang artinya), “Setiap amalan kebaikan anak Adam akan di lipatgandakan menjadi 10 hingga 700 kali dari kebaikan yang semisal. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (yang artinya), “Kecuali puasa, amalan tersebut untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya karena dia telah meninggalkan syahwat dan makanannya demi Aku.” (HR. Muslim)
Kemudian sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (yang artinya), “Sesungguhnya di surga ada sebuah pintu yang bernama Ar-Royyaan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk surga melalui pintu tersebut dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Dikatakan kepada mereka,’Di mana orang-orang yang berpuasa?’ Maka orang-orang yang berpuasa pun berdiri dan tidak ada seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut kecuali mereka. Jika mereka sudah masuk, pintu tersebut ditutup dan tidak ada lagi seorang pun yang masuk melalui pintu tersebut.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Keutamaan Puasa ‘Asyura
Setelah membaca hadits-hadits Nabi secara umum tentang keutamaan orang yang berpuasa, di dalam bulan Muharram terdapat anjuran secara khusus untuk berpuasa pada Hari ‘Asyura. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya), “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim) Dalam hadits ini disebutkan bahwa puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, yaitu bulan Muharram. Dan di dalam bulan Muharram terdapat anjuran untuk berpuasa di Hari ‘Asyura.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya), ”Puasa ‘Asyura akan menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim) Kemudian terdapat suatu hadits yang menceritakan bahwa seorang laki-laki datang bertanya kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam tentang pahala puasa hari ‘asyura. Maka Rasulullah menjawab: Aku berharap kepada Allah agar menghapus dosa-dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)
Hukum Puasa ‘Asyura
Shahabat ‘Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Nabi Shalallahu ‘alaihi wa Sallam mengerjakan Puasa ‘Asyura dan memerintahkan kepada para shahabat untuk berpuasa. Ketika puasa Ramadhan diwajibkan, Rasulullah meninggalkan hal tersebut- yakni berhenti mewajibkan mereka mengerjakan dan hukumnya menjadi mustahab (sunnah).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kemudian perkataan shahabat Mu’awiyyah Radhiyallahu ‘anhuma, “Aku mendengar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: Hari ini adalah hari ‘Asyura. Allah tidak mewajibkan atas kalian berpuasa padanya, tetapi aku berpuasa, maka barang siapa yang ingin berpuasa, maka berpuasalah. Dan barangsiapa yang ingin berbuka (tidak berpuasa), maka berbukalah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dari kedua hadits di atas, dapat disimpulkan bahwa hukum bepuasa pada Hari ‘Asyura adalah mustahab (dianjurkan), yang sebelumnya adalah wajib. Tatkala disyariatkannya Puasa Ramadhan, maka hukum Puasa ‘Asyura menjadi Sunnah
Menambah Puasa pada Tanggal Sembilan Muharram
Dianjurkan untuk menambah Puasa ‘Asyura pada tanggal sembilan Muharram, dalam rangka menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani. ‘Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma berkata ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melakukan puasa hari ‘Asyura dan memerintahkan kaum muslimin untuk melakukannya, kemudian pada saat itu ada yang berkata, “Wahai Rasulullah, hari ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashara.” Lantas Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mengatakan, “Apabila tiba tahun depan –insyaa Allah (jika Allah menghendaki)- kita akan berpuasa pula pada hari kesembilan.” ‘Ibnu ‘Abbas mengatakan, “Belum sampai tahun depan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sudah keburu meninggal dunia.” (HR. Muslim)
Semangat Dalam Mengerjakan Amalan Sunnah
Meskipun hukum melaksanakan Puasa ‘Asyura adalah dianjurkan, hendaknya seorang muslim tetap semangat dalam melaksanakan amalan-amalan sunnah. Karena hal ini menjadi salah satu sebab Allah akan mencintainya. Sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits Qudsi, “Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya…” (HR. Al-Bukhari)
Dalam shahihain, dari ‘Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya beliau pernah ditanya tentang hari ‘Asyura, maka beliau menjawab: Aku tidak pernah melihat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam begitu menjaga keutamaan satu hari di atas hari-hari lainnya, melebihi hari ini (maksudnya, hari ‘Asyura) dan bulan yang ini (maksudnya, bulan Ramadhan).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Bahkan Rasulullah sendiri sangat bersemangat dalam menjaga amalan Puasa ‘Asyura. Dan kita sebagai seseorang yang mengaku mencintai Nabi, hendaknya kita mencontoh amalan-amalan yang dilakukan oleh Beliau, meskipun dalam perkara yang bukan wajib. Semoga Allah memudahkan kita dalam melaksanakan salah satu syariat-Nya, dan menerima amalan kita.

Kamis, 25 Oktober 2012

3 Keutamaan Puasa Arafah

Hari ini, Kamis 25 Oktober 2012, bertepatan dengan 9 Dzulhijjah 1433 H merupakan hari Arafah. Pada hari itu, jamaah haji melakukan wukuf di Arafah yang merupakan rukun inti dari haji. Sedangkan bagi kaum Muslimin yang tidak sedang menjalankan ibadah haji, disunnahkan untuk melakukan puasa Arafah.

Puasa Arafah merupakan puasa sunnah yang sangat dianjurkan, sunnah muakad. Puasa Arafah memiliki keutamaan yang luar biasa. Sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut:

سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ
Rasulullah SAW pernah ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau menjawab, “Puasa itu menghapus dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun berikutnya.” (HR. Muslim)

Demikianlah keutamaan puasa Arafah: ia dapat menghapuskan dosa selama dua tahun. Yakni dosa satu tahun sebelumnya dan satu tahun sesudahnya.

Diantara keutamaan hari Arafah adalah pembebasan dari api neraka. Sebagian ulama menjelaskan bahwa pembebasan dari neraka pada hari Arafah diberikan Allah bukan hanya kepada jamaah haji yang sedang wukuf, melainkan juga untuk kaum muslimin yang tidak sedang menjalankan haji. Terlimpahkannya ampunan Allah terhadap dosa selama dua tahun melalui puasa Arafah sangat terkait dengan keutamaan kedua ini.

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ
“Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari Arofah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?” (HR. Muslim)

Keutamaan lain puasa Arafah adalah ke-mustajab-an doa. Secara umum doa orang yang berpuasa akan dikabulkan oleh Allah. Ditambah lagi dengan keutamaan waktu hari Arafah yang merupakan sebaik-baik doa pada waktu itu, maka semakin kuatlah keutamaan terkabulnya doa orang yang berpuasa Arafah pada hari itu.

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
“Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arafah. Dan sebaik-baik yang kuucapkan, begitu pula diucapkan oleh para Nabi sebelumku adalah ucapan “Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qadiir (Tidak ada Ilah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. MilikNyalah segala kerajaan dan segala pujian, Allah Maha Menguasai segala sesuatu).” (HR. Tirmidzi, hasan)

Demikian 3 Keutamaan Puasa Arafah, semoga semakin menguatkan motivasi kita untuk menjalankan Puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah 1433 H yang jatuh pada hari ini.

Selasa, 23 Oktober 2012

Jin dan Fenomena Kesurupan dalam Perspektif Al-Qur'an dan Hadits

KH. Ma’shum Ahmad atau yang lebih akrab dengan panggilan mbah Ma’shum Lasem, dulu pernah bersilatur rahim ketempat kawannya saat sama-sama masih belajar di Makkah yaitu, Tuan Guru Zainuddin Lombok. Menjelang Maghrib mbah Ma’shum sampai di sana. Saat di jamu oleh tuan rumah, mbah Ma’shum melihat betapa ramainya pesantren kawannya itu. Aktifitas para santri sangat hingar bingar, terlihat ada yang belajar, mengaji dan berdzikir. “Alhamdulillah pesantren Tuan Guru sudah maju, santrinya banyak. Semoga mereka bisa menjadi pemimpin kaumnya”. Kata mbah Ma’shum. Tuan Guru Zainuddin mengamini do’a mbah Ma’shum lantas tersenyum penuh arti. Keesokan harinya, pesantren itu mendadak sepi tidak seramai malam tadi dan tidak ada lagi santri yang berlalu lalang. Akhirnya mbah Ma’shum bertanya kepada Tuan Guru, kemana gerangan para santrinya. Jawab Tuan Guru, “Mereka adalah Jin-jin yang nyantri dan belajar agama disini”.
Dari cerita ini bisa diambil pengertian bahwa Jin itu ada dan bisa dilihat oleh orang-orang yang dikehendaki oleh Allah, dalil-dalil Alqur’annya banyak sekali, diantaranya QS. Al-Ahqof 29, QS. Al-An’am 130, QS. Ar-Rahman 33 dan lain-lain. Di dalam hadits juga ada, diantaranya hadits riwayat Muslim, bahwa Rasulullah saw bersabda “Telah datang kepadaku da’i Jin, lalu aku pergi bersamanya, kemudian aku membacakan al-Qur’an kepada mereka”.
Jin memiliki beberapa kesamaan dengan manusia, diantaranya, mempunyai tempat tinggal, mereka makan dan minum seprti halnya manusia, ada yang pria dan ada yang wanita (mungkin ada bancinya juga kalee…red), untuk mengembangkan keturunan, mereka menikah sebagaimana manusia, sama-sama mukallaf, beragama dan menurut mayoritas ulama Jin juga bisa masuk surga atau neraka sebagaimana manusia.
Kemudian benarkah jin bisa masuk kedalam tubuh manusia (kesurupan), sebagaimana telah banyak diberitakan orang dan media massa? Sebenarnya bagaimana pandangan Islam mengenahi ini?
Imam al-Qurthubi, Imam al-Asy’ari, Imam Ahmad bin Hambal, Ibnu Taimiyah dan kebanyakan ulama taslim atau mengakui keberadaan kesurupan. Kata Imam al-Asy’ari, “Ahlussunnah waljama’ah berpendapat bahwa jin bisa masuk kedalam tubuh manusia sebagaimana firman Allah swt “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri kecuali seperti berdirinya orang yang kemasukan syetan lantaran (tekanan) penyakit gila (QS. Al-Baqoroh 275). Imam al-Qurthubi menuturkan bahwa ayat ini menjadi dalil dan bukti atas kesalahan pendapat orang-orang yang mengingkari adanya kesurupan, mereka menganggap bahwa tidak mungkin syetan dapat masuk kedalam tubuh manusia, jika terjadi kesurupan, itu hanya karakter dan pembawaan manusia saja.
Kesurupan terjadi kebanyakan karena jin marah, benci dan dendam terhadap manusia sebab adanya sebagian manusia yang menyakiti jin tersebut, atau jin mengira bahwa manusia itu sengaja menyakiti mereka dengan mengencingi, menyiram air panas dan lain-lain. Kesurupan juga bisa terjadi karena perasaan cinta jin terhadap manusia itu, atau pada saat jiwa manusia sedang guncang dan lemah, atau memang terkadang mereka (jin) lagi iseng main-main masuk kedalam tubuh manusia. Untuk mengantisipasi terjadinya kesurupan tentunya dengan rajin-rajin beribadah dengan benar, banyak berdzikir dan mendekatkan diri kepada Allah saw. Wallohu a’lam bisshowaf.
Sumber. Kutipan dari Mbah Ma’shum Lasem the Authorized biography of KH. Ma’shum Ahmad. Karya M. Luthfi Thomafi. al-Qurthubi Al-Jami’il ahkamil Qur’an. Buletin Alfithroh Edisi Februari 2010 dll.

Sabtu, 20 Oktober 2012

Syukur Bertambah, Nikmat Berlimpah

Ibnu Abbas meriwayatkan, bahwa suatu kali hujan turun di zaman Nabi shallallahu alaihi wasallam. Lalu Nabi bersabda, ”Pagi ini, di antara manusia ada yang bersyukur, namun ada juga sebagian yang kufur. Mereka (yang bersyukur) berkata, ”Hujan ini adalah rahmat dari Allah.” Namun sebagian lagi (yang kufur) berkata, ”Memang benar (hujan turun karena) bintang ini dan bintang itu.” (HR Muslim)
Ada yang Syukur dan Ada yang Kufur
Meski kasus di atas terkait dengan hujan, namun kaidah ini berlaku untuk segela jenis nikmat yang Allah turunkan. Untuk setiap karunia yang Allah berikan, selalu menjadi ujian untuk memisahkan dua golongan, golongan orang yang bersyukur, dan golongan orang yang kufur.
Dikatakan kufur atas nikmat Allah, karena mereka mengalamatkan asal nikmat dan rejeki yang disandangnya kepada selain Allah. Bahwa rejeki datang karena kerja kerasnya, harta berlimpah karena kepiawaian dalam bisnisnya, atau karena semata-mata kondisi ekonomi sedang bagus-bagusnya. Apalagi jika mengalamatkan rejeki diperoleh berkat jimat, pertolongan leluhur, mendatangi dukun atau sesaji yang dilakukannya.
Sebagian lagi yang kurang, atau bahkan tidak bersyukur, mereka tidak peka atas nikmat yang tertuju kepadanya. Mereka tidak menyadari tiap nikmat yang melekat pada dirinya. Karena fokus pikirannya hanya tertuju pada apa-apa yang belum dimiliki.
Mereka  baru sadar, ketika nikmat itu dicabut atau hilang dari genggaman. Inilah karakter kebanyakan manusia sebagaimana yang difirmankan Allah,
”Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya” (QS al-’Adiyaat 6)
Imam Hasan al-Bashri  rahimahullah menyebutkan bahwa maksud ’lakanuud’ (sangat ingkar) adalah yang suka mengingat musibah, namun melupakan nikmat.” Saat musibah datang, atau ada sesuatu yang hilang darinya, maka seakan ia tak pernah memiliki apa-apa selain yang hilang itu. Maka bagaimana Allah akan memberikan nikmat tambahan jika mereka hanya memandang nikmat dengan sebelah mata? Bagaimana pula mereka akan bahagia jika mereka tak mampu mendeteksi segala nikmat yang disandangya? Begitulah siksa bagi orang yang kufur atas nikmat Allah di dunia, sebelum nantinya merasakan pedihnya siksa di akhirat.
Ikat Nikmat dengan Syukur
Berbanding terbalik dengan kufur nikmat. Begitu indahnya nikmat saat direspon dengan syukur. Sungguh kesyukuran itu bahkan lebih berharga nilainya dari nikmat yang disyukuri. Karena ia akan melahirkan banyak sekali buah dan faedah yang akan dirasakan nikmatnya dalam segala sisi, baik di dunia maupun di akhirat. Tidaklah mengherankan, jika target setan menggoda manusia dari segala arah adalah untuk menjauhkan manusia dari kesyukuran, Iblis berjanji,
”Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS al-A’raf 17)
Setan tidak ingin manusia mendapatkan faedah melimpah karena bersyukur. Karena orang yang bersyukur tak hanya terhindar dari siksa akhirat, tapi juga bisa mengenyam selaksa kebahagiaan di dunia.
Kebahagiaan akan terpancar di hati orang yang bersyukur. Tiada orang yang lebih berbahagia dan lebih optimis dari orang yang bersyukur. Syeikh Abdurrahman as-Sa’di menggambarkan kondisi hati orang yang bersyukur, “Orang yang bersyukur adalah orang yang paling bersih jiwanya, paling lapang dadanya, dan paling bahagia hatinya. Karena hati dipenuhi oleh pujian terhadap-Nya, merasakan hadirnya setiap nikmat-nikmat dari-Nya, dia pun bahagia lantaran bisa menikmati karunia dari-Nya. Lisannya senantiasa basah dengan ungkapan syukur dan dzikir kepada-Nya. Dan semua ini merupakan pondasi terwujudnya kehidupan yang baik, inti dari kenikmatan jiwa, dan rahasia diperolehnya segala kelezatan dan kegembiraan. Ketika hati menyadari dan mendeteksi hadirnya tambahan nikmat, maka harapan terhadap karunia Allah pun semakin bertambah dan menguat.”
Tatkala seorang hamba merasa senang, mengakui nikmat dari Allah dan mensyukurinya, maka Allah tak ingin mencabut nikmat itu darinya. Benarlah ungkapan para ulama bahwa asy-syukru qayyidun ni’am, syukur adalah pengikat nikmat. Dengannya, nikmat-nikmat yang tersandang menjadi langgeng dan lestari. Dan tak ada cara yang paling kuat untuk mempertahankan nikmat selain dari syukur.
Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allah menurunkan nikmat atas hamba-Nya sesuai kehendak-Nya. Jika ia tidak mensyukurinya, maka nikmat akan diganti dengan musibah. Karena itulah, syukur juga disebut dengan al-haafizh (penjaga), karena ia bisa menjaga nikmat yang telah ada. Syukur disebut juga dengan al-jaalib (yang mendatangkan), karena ia bisa mendatangkan nikmat yang belum di depan mata.”
Syukur bertambah, Nikmat Melimpah
Nikmat itu hadir karena syukur. Lalu syukur itu akan mengundang hadirnya tambahan nikmat. Tambahan nikmat akan terus diturunkan kepada seorang hamba, dan tidak akan berhenti hingga hamba itu sendiri yang menghentikan syukurnya kepada Allah. Begitulah kesimpulan cerdas dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.
Sesuai dengan kadar syukur seseorang, sebanyak itu pula tambahan nikmat akan tercurah kepadanya. Tatkala menafsirkan firman Allah,
“dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS Ali Imran 145)
Ibnu Katsier rahimahullah berkata, “Maksudnya adalah Kami akan menurunkan karunia dan rahmat Kami di dunia dan di akhirat sesuai dengan kadar syukur dan amal perbuatannya.” Mereka akan mendapatkan karunia tersebut, dan tak akan terkurangi sedikitpun. Ketika seorang mukmin bersyukur dengan menjalankan ketaatan, maka Allah akan memberikan balasan kepadanya sesuai dengan kadar syukurnya. Hal ini dikuatkan dengan sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam,
إِنَّ اللَّهَ لاَ يَظْلِمُ مُؤْمِنًا حَسَنَةً يُعْطَى بِهَا فِى الدُّنْيَا وَيُجْزَى بِهَا فِى الآخِرَةِ
Sesungguhnya Allah tidak akan menzhalimi atas satu kebaikan seorang mukmin, Allah akan memberikan imbalan di dunia, dan memberinya pahala di akhirat.” (HR Muslim)
Namun hal ini tidak berarti bahwa setiap orang yang diberi kemudahan dalam memperoleh harta, atau rejeki datang silih berganti itu selalu diartikan sebagai tambahan karunia. Ada kalanya kemudahan melimpah itu sebagai istidraj, Allah hendak membiarkan mereka bersenang-senang sementara hingga nantinya akan disiksa secara tiba-tiba. Maka hendaknya seorang mukmin segera mawas diri, apakah dia sedang berada dalam taat, ataukah maksiat, sehingga bisa dibedakan, apakah kenikmatan itu berupa karunia atukah istidraj.  Nabi saw bersabda,
إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِى الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ
”Jika kamu mendapatkan Allah memberikan kemudahan dunia kepada seorang hamba sementara ia bergelimang dengan maksiat sesukanya, maka itu hanyalah istidraj.” (HR Ahmad)
Untuk merealisasikan syukur yang dengannya akan mengundang tambahan karunia, hendaknya kita senantiasa mengingat, merenungi dan mencari-cari kenikmatan yang sudah kita miliki. Dengan cara seperti itu, kita pun akan merasakan nikmatnya karunia, untuk kemudian bersyukur kepada Dzat yang telah memberikan karunia.
Inilah yang sering dilakukan oleh para ulama. Seperti Fudhail bin Iyadh dan Sufyan bin Uyainah, keduanya duduk bersama di malam hari untuk saling mengingatkan nikmat yang telah Allah anugerahkan kepada keduanya. Sufyan mengatakan, ”Allah telah menganugerahkan kepada kita ini dan itu, Dia telah menolong kita tatkala ini dan itu..” Begitupun halnya dengan Fudhail.
Maka barangsiapa yang ingin diberi tamhahan nikmat, baik dalam hal ilmu, harta, keharmonisan rumah tangga dan segala kemaslahatan yang lain, maka hendaknya mengingat nikmat, lalu mensyukuri dengan lisan dan menggunakan nikmat untuk ketaatan. Karena Allah tidak pernah ingkar janji dengan firman-Nya,
Dan (ingatlah juga), takala Rabbmu mema’lumkan:”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS al-Maidah 7)
Sebagaimana Allah juga tidak akan mengingkari janji-Nya,
{مَّا يَفْعَلُ اللّهُ بِعَذَابِكُمْ إِن شَكَرْتُمْ وَآمَنتُمْ ( النساء :147(
“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman?” (QS an-Nisa’ 147)
Qatadah mengatakan, “yakni Allah tidak akan menyiksa orang yang bersyukur dan beriman.” Allahumma a’inna ‘alaa dzikri-Ka wa syukri-Ka wa husni ‘ibaadati-Ka, ya Allah bantulah kami untuk senantiasa berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu dan memperbagus ibadahku kepada-Mu. Amiin. (Abu Umar Abdillah)

Selasa, 16 Oktober 2012

Menebar Senyum Menebar Shadaqah

”Janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Hasyr [59]: 10)

Harus diakui, Islam sungguh indah. Ajarannya mencakup segala aspek kehidupan, termasuk hal yang terkecil (furu’). Aspek keluarga, sosial, tijarah atau muamalah dan pergaulan. Termasuk senyuman ada ajarannya dalam Islam.
Sabda sakti Rasulullah SAW mengkhabarkan: ”Senyummu kepada saudaramu adalah shodaqoh.” (HR. Tirmidzi)
Senyuman adalah sebuah sihir yang diperbolehkan. Dengan senyuman, kita telah memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Senyuman adalah bukti cinta kasih kepada orang lain. Dan senyuman akan memancarkan cahaya kepada dunia dengan penuh kebahagiaan.
Senyuman itu mendamaikan jiwa, menentramkan hati dan menghilangkan kedengkian. Senyuman akan membakar kecemburuan dan dendam dalam hati. Senyuman juga akan menaburkan persaudaraan dan keselamatan dalam dunia manusia.
Senyuman adalah mahkota. Permatanya terbuat dari kerelaan, untaian emasnya didesain dari kedamaian, dan manik-manik intannya terbuat dari kasih sayang. Senyuman adalah pusat kesegaran, alamat kebahagiaan dan tanda persaudaraan.
Senyuman akan melahirkan kehidupan yang indah, mampu melembutkan wajah, dan sanggup menaklukan hati. Senyuman yang melebar dalam hati, bagaikan sebuah sihir yang menebar pengaruh dahsyat bagi orang lain.
Tersenyum itu murah dan mudah. Dengan menggerakkan bibir ke kanan dan kiri dengan ikhlas. Maka, kita sudah menyebarkan bibit-bibit kedamaian. Setiap orang bisa senyum, tapi tidak  semua orang bisa senyum dengan ikhlas. Pribahasa mengatakan, ’Tersenyumlah untuk semua orang tapi hati dan perasaaanmu cukup untuk satu orang.’
Setiap orang menyukai jika diberi senyuman. Peribadi yang murah senyum akan lebih disukai orang lain daripada pribadi yang miskin dan pelit untuk tersenyum. Hidup ini memang seperti roda yang terus berputar, kadang di atas kadang di bawah, kadang suka kadang duka. Dikala duka inilah kita membutuhkan ‘obat’ yang bisa membuat kita bangkit lagi. Dan sedikit senyuman kiranya dibutuhkan sebagai obat hati yang terluka.
Ada alasan kesehatan kenapa senyum bisa membuat kita lebih baik. Yakni, senyum hampir sama dengan olahraga. Kalau sedang tersenyum, banyak otot yang kita gunakan. Tersenyum mempengaruhi hampir semua otot dan sebagian besar organ-organ utama. Akibatnya, aktivitas pernafasan dan detak jantung meningkat, menstimulus sistem sirkulasi darah, dan mengurangi stress. Sementara itu, kelenjar di bawah otak mengeluarkan zat kimia yang membuat kita merasa sehat. Seluruh badan terasa lebih ringan dan rileks.
Pada dasarnya, Islam sendiri dibangun atas dasar prinsip-prinsip keseimbangan dan kemoderatan, baik dalam hal aqidah, ibadah, akhlak maupun tingkah laku. Maka dari itu, Islam tidak mengenal kemuraman yang menakutkan, dan tertawa lepas yang tak beraturan. Akan tetapi sebaliknya, Islam senantiasa mengajarkan kesungguhan yang penuh wibawa dan ringan langkah yang terarah.
Wallahu A’lam.

Senin, 15 Oktober 2012

Menggapai Ridho Allah Lewat Orang Tua

Sadarkah kita ?
Kapan kita bersyukur kita masih dapat bertemu orang tua kita setiap hari ?
Masih dapat melihat mereka tersenyum ?
Sadarkah kita ?
kita tak bisa hidup tanpa mereka ?
Pernahkah kita memikirkan hal itu ?


Orang tua kita selalu sabar menghadapi tingkah laku kita, hal apa yang dapat kita balas buat mereka ?
perkataan kasar kita ?
muka masam kita ?
pantaskah hal itu mereka dapatkan ? atas semua perbuatan mereka kepada kita ?

Jalan yang haq dalam menggapai Ridho ALLAH melalui orang tua adalah birrul walidain. Birrul walidain (berbakti kepada orang tua) merupakan salah satu masalah penting dalam Islam. Di dalam Al-Quran, setelah memerintahkan manusia untuk bertauhid, ALLAH memerintahkan untuk berbakti kepada orang tua.
Dalam surat Al-Isra' ayat 23-24,
ALLAH berfirman: "Dan Robb-mu telah memerintahkan kepada manusia, janganlah ia beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya. Dan jika salah satu dari keduanya atau kedua-duanya telah berusia lanjut di sisimu, maka janganlah katakan kepada keduanya 'ah' dan janganlah kamu membentak kedua-nya. Dan katakanlah kepada keduanya perkataan yang mulia dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasing sayang. Dan katakanlah, 'Wahai Rabb-ku sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangiku di waktu kecil'

Perintah birrul walidain juga tercantum dalam surat An-Nisa:36, ALLAH berfirman:
"Dan sembahlah ALLAH dan janganlah menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan berbuat baiklah kepada kedua ibu bapak, kepada kaum kerabat, kepada anak-anak yatim, kepada orang-orang miskin, kepada tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya, sesungguhnya ALLAH tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri" 

Dalam surat Al-Ankabut:8, tercantum larangan mematuhi orang tua yang kafir kalau mereka mengajak kepada kekafiran. "Dan Kami wajibkan kepada manusia (berbuat) kebajikan kepada orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku lah kem-balimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan"

Maka berbuat baik kepada kedua orang tua menjadi keputusan mutlak dari Allah dan ibadah yang menempati urutan kedua setelah beribadah kepada Allah:  "Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliha-raanmu". (Al-Isra': 23)

Kibar atau kibarul sin artinya berusia lanjut, umur sudah mulai menua, punggung sudah mulai membung-kuk dan kulit sudah mulai keriput. 'Indaka yang berarti pemeliharaan yaitu suatu kalimat yang menggambarkan makna tempat berlindung dan berteduh pada saat masa tua, lemah dan tidak berdaya.
Allah Ta'ala berfirman:  "Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka". (Al-Isra': 23) 

Seakan-akan Allah berfirman; Bersopan santunlah kamu kepada orang tua! Dengan demikian ayat tersebut mengajarkan sikap sopan agar seorang anak tidak menunjukkan sikap kasar serta menyakitkan hati atau merendahkan kedua orang tua. Allah Ta'ala berfirman:  "Dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia". 

Ini tingkatan yang lebih tinggi lagi yaitu keharusan bagi anak untuk selalu mengucapkan perkataan yang baik kepada kedua orang tua dan memperlihatkan sikap hormat serta menghargai. Allah Ta'ala juga berfirman:  "Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang".

Seolah-olah sikap rendah diri memiliki sayap dan sayap tersebut direndahkan sebagai tanda penghormatan dan penyerahan diri dalam arti sikap rendah diri yang selayaknya diperintahkan kepada kedua orang tua, seba-gai pengakuan tulus atas kebaikan dan jasa-jasanya.
Allah Ta'ala berfirman:  "Dan ucapkanlah: "Wahai Tuhanku kasihilah me-reka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil". (Al-Isra': 24)

Sabtu, 13 Oktober 2012

5 Kiat Praktis Hadapi Masalah

Penulis: KH Abdullah Gymnastiar

Suatu hal yang pasti tidak akan luput dari keseharian kita adalah yang disebut masalah atau persoalan hidup, dimanapun, kapanpun, apapun dan dengan siapapun, semuanya adalah potensi masalah. Namun andaikata kita cermati dengan seksama ternyata dengan persoalan yang persis sama, sikap orangpun berbeda-beda, ada yang begitu panik, goyah, kalut, stress tapi ada pula yang menghadapinya dengan begitu mantap, tenang atau bahkan malah menikmatinya.
Berarti masalah atau persoalan yang sesungguhnya bukan terletak pada persoalannya melainkan pada sikap terhadap persoalan tersebut. Oleh karena itu siapapun yang ingin menikmati hidup ini dengan baik, benar, indah dan bahagia adalah mutlak harus terus-menerus meningkatkan ilmu dan keterampilan dirinya dalam menghadapi aneka persoalan yang pasti akan terus meningkat kuantitas dan kualitasnya seiring dengan pertambahan umur, tuntutan, harapan, kebutuhan, cita-cita dan tanggung jawab.
Kelalaian kita dalam menyadari pentingnya bersungguh-sungguh mencari ilmu tentang cara menghadapi hidup ini dan kemalasan kita dalam melatih dan mengevaluasi ketrampilan kita dalam menghadapi persoalan hidup berarti akan membuat hidup ini hanya perpindahan kesengsaraan, penderitaan, kepahitan dan tentu saja kehinaan yang bertubi-tubi. Na’udzubillah.
1. Siap
Siap apa? Siap menghadapi yang cocok dengan yang diinginkan dan siap menghadapi yang tidak cocok dengan keiinginan.
Kita memang diharuskan memiliki keiinginan, cita-cita, rencana yang benar dan wajar dalam hidup ini, bahkan kita sangat dianjurkan untuk gigih berikhtiar mencapai apapun yang terbaik bagi dunia akhirat, semaksimal kemampuan yang Allah Swt berikan kepada kita.
Namun bersamaan dengan itu kitapun harus sadar-sesadarnya bahwa kita hanyalah makhluk yang memiliki sangat banyak keterbatasan untuk mengetahui segala hal yang tidak terjangkau oleh daya nalar dan kemampuan kita.
Dan pula dalam hidup ini ternyata sering sekali atau bahkan lebih sering terjadi sesuatu yang tidak terjangkau oleh kita, yang di luar dugaan dan di luar kemampuan kita untuk mencegahnya, andaikata kita selalu terbenam tindakan yang salah dalam mensikapinya maka betapa terbayangkan hari-hari akan berlalu penuh kekecewaaan, penyesalan, keluh kesah, kedongkolan, hati yang galau, sungguh rugi padahal hidup ini hanya satu kali dan kejadian yang tak didugapun pasti akan terjadi lagi.
Ketahuilah kita punya rencana, Allah Swt pun punya rencana, dan yang pasti terjadi adalah apa yang menjadi rencana Allah Swt.
Yang lebih lucu serta menarik, yaitu kita sering marah dan kecewa dengan suatu kejadian namun setelah waktu berlalu ternyata “kejadian” tersebut begitu menguntungkan dan membawa hikmah yang sangat besar dan sangat bermanfaat, jauh lebih baik dari apa yang diharapkan sebelumnya.
Alkisah ada dua orang kakak beradik penjual tape, yang berangkat dari rumahnya di sebuah dusun pada pagi hari seusai shalat shubuh, di tengah pematang sawah tiba-tiba pikulan sang kakak berderak patah, pikulan di sebelah kiri masuk ke sawah dan yang di sebelah kanan masuk ke kolam. Betapa kaget, sedih, kesal dan merasa sangat sial, jualan belum, untung belum bahkan modalpun habis terbenam, dengan penuh kemurungan mereka kembali ke rumah. Tapi dua jam kemudian datang berita yang mengejutkan, ternyata kendaraan yang biasa ditumpangi para pedagang tape terkena musibah sehingga seluruh penumpangnya cedera bahkan diantaranya ada yang cedera berat, satu-satunya diantara kelompok pedagang yang senantiasa menggunakan angkutan tersebut yang selamat hanyala dirinya, yang tidak jadi berjualan karena pikulannya patah. Subhanalloh, dua jam sebelumnya patah pikulan dianggap kesialan besar, dua jam kemudian patah pikulan dianggap keberuntungan luar biasa.
Oleh karena itu “fa idzaa azamta fa tawaqqal alalloh” bulatkan tekad, sempurnakan ikhtiar namun hati harus tetap menyerahkan segala keputusan dan kejadian terbaik kepada Allah Swt. Dan siapkan mental kita untuk menerima apapun yang terbaik menurut ilmu Allah Swt.
Allah Swt, berfirman dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 216, “Boleh jadi engkau tidak menyukai sesuatu padahal bagi Allah Swt lebih baik bagimu, dan boleh jadi engkau menyukai sesuatu padahal buruk dalam pandangan Allah Swt.”
Maka jikalau dilamar seseorang, bersiaplah untuk menikah dan bersiap pula kalau tidak jadi nikah, karena yang melamar kita belumlah tentu jodoh terbaik seperti yang senantiasa diminta oleh dirinya maupun orang tuanya. Kalau mau mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri, berjuanglah sungguh-sungguh untuk diterima di tempat yang dicita-citakan, namun siapkan pula diri ini andaikata Allah Yang MahaTahu bakat, karakter dan kemampuan kita sebenarnya akan menempatkan di tempat yang lebih cocok, walaupun tidak sesuai dengan rencana sebelumnya.
Melamar kerja, lamarlah dengan penuh kesungguhan, namun hati harus siap andaikata Allah Swt, tidak mengijinkan karena Allah Swt, tahu tempat jalan rizki yang lebih berkah.
Berbisnis ria, jadilah seorang profesional yang handal, namun ingat bahwa keuntungan yang besar yang kita rindukan belumlah tentu membawa maslahat bagi dunia akhirat kita, maka bersiaplah menerima untung terbaik menurut perhitungan Allah Swt. Demikianlah dalam segala urusan apapun yang kita hadapi.
2.Ridha
Siap menghadapi apa pun yang akan terjadi, dan bila terjadi, satu-satunya langkah awal yang harus dilakukan adalah mengolah hati kita agar ridha/rela akan kenyataan yang ada. Mengapa demikian? Karena walaupun dongkol, uring-uringan dan kecewa berat, tetap saja kenyataan itu sudah terjadi. Pendek kata, ridha atau tidak, kejadian itu tetap sudah terjadi. Maka, lebih baik hati kita ridha saja menerimanya.
Misalnya, kita memasak nasi, tetapi gagal dan malah menjadi bubur. Andaikata kita muntahkan kemarahan, tetap saja nasi telah menjadi bubur, dan tidak marah pun tetap bubur. Maka, daripada marah menzalimi orang lain dan memikirkan sesuatu yang membuat hati mendidih, lebih baik pikiran dan tubuh kita disibukkan pada hal yang lain, seperti mencari bawang goreng, ayam, cakweh, seledri, keripik, dan kecap supaya bubur tersebut bisa dibuat bubur ayam spesial. Dengan demikian, selain perasaan kita tidak jadi sengsara, nasi yang gagal pun tetap bisa dinikmati dengan lezat.
Kalau kita sedang jalan-jalan, tiba-tiba ada batu kecil nyasar entah dari mana dan mendarat tepat di kening kita, hati kita harus ridha, karena tidak ridha pun tetap benjol. Tentu saja, ridha atau rela terhadap suatu kejadian bukan berarti pasrah total sehingga tidak bertindak apa pun. Itu adalah pengertian yang keliru. Pasrah/ridha hanya amalan, hati kita menerima kenyataan yang ada, tetapi pikiran dan tubuh wajib ikhtiar untuk memperbaiki kenyataan dengan cara yang diridhai Allah Swt. Kondisi hati yang tenang atau ridha ini sangat membantu proses ikhtiar menjadi positif, optimal, dan bermutu.
Orang yang stress adalah orang yang tidak memiliki kesiapan mental untuk menerima kenyataan yang ada. Selalu saja pikirannya tidak realistis, tidak sesuai dengan kenyataan, sibuk menyesali dan mengandai – andai sesuatu yang sudah tidak ada atau tidak mungkin terjadi. Sungguh suatu kesengsaraan yang dibuat sendiri.
Misalkan tanah warisan telah dijual tahun yang lalu dan saat ini ternyata harga tanah tersebut melonjak berlipat ganda. Orang-orang yang malang selalu saja menyesali mengapa dahulu tergesa-gesa menjual tanah. Kalau saja mau ditangguhkan, niscaya akan lebih beruntung. Biasanya, hal ini dilanjutkan dengan bertengkar saling menyalahkan sehingga semakin lengkap saja penderitaan dan kerugian karena memikirkan tanah yang nyata-nyata telah menjadi milik orang lain.
Yang berbadan pendek, sibuk menyesali diri mengapa tidak jangkung. Setiap melihat tubuhnya ia kecewa, apalagi melihat yang lebih tinggi dari dirinya. Sayangnya, penyesalan ini tidak menambah satu senti pun jua. Yang memiliki orang tua kurang mampu atau telah bercerai, atau sudah meninggal sibuk menyalahkan dan menyesali keadaan, bahkan terkadang menjadi tidak mengenal sopan santun kepada keduanya, mempersatukan, atau menghidupkannya kembali. Sungguh banyak sekali kita temukan kesalahan berpikir, yang tidak menambah apa pun selain menyengsarakan diri.
Ketahuilah, hidup ini terdiri dari berbagai episode yang tidak monoton. Ini adalah kenyataan hidup, kenanglah perjalanan hidup kita yang telah lalu dan kita harus benar-benar arif menyikapi setiap episode dengan lapang dada, kepala dingin, dan hati yang ikhlas. Jangan selimuti diri dengan keluh kesah karena semua itu tidak menyelesaikan masalah, bahkan bisa jadi memperparah masalah.
Dengan demikian, hati harus ridha menerima apa pun kenyataan yang terjadi sambil ikhtiar memperbaiki kenyataan pada jalan yang diridhai Allah swt.
3. Jangan Mempersulit Diri
Andaikata kita mau jujur, sesungguhnya kita ini paling hobi mengarang, mendramatisasi, dan mempersulit diri. Sebagian besar penderitaan kita adalah hasil dramatisasi perasaan dan pikiran sendiri. Selain tidak pada tempatnya, pasti ia juga membuat masalah akan menjadi lebih besar, lebih seram, lebih dahsyat, lebih pahit, lebih gawat, lebih pilu daripada kenyataan yang aslinya, Tentu pada akhirnya kita akan merasa jauh lebih nelangsa, lebih repot di dalam menghadapinya/mengatasinya.
Orang yang menghadapi masa pensiun, terkadang jauh sebelumnya sudah merasa sengsara. Terbayang di benaknya saat gaji yang kecil, yang pasti tidak akan mencukupi kebutuhannya. Padahal, saat masih bekerja pun gajinya sudah pas-pasan. Ditambah lagi kebutuhan anak-anak yang kian membengkak, anggaran rumah tangga plus listrik, air, cicilan rumah yang belum lunas dan utang yang belum terbayar. Belum lagi sakit, tak ada anggaran untuk pengobatan, sementara umur makin menua, fisik kian melemah, semakin panjang derita kita buat, semakin panik menghadapi pensiun. Tentu saja sangat boleh kita memperkirakan kenyataan yang akan terjadi, namun seharusnya terkendali dengan baik. Jangan sampai perkiraan itu membuat kita putus asa dan sengsara sebelum waktunya.
Begitu banyak orang yang sudah pensiun ternyata tidak segawat yang diperkirakan atau bahkan jauh lebih tercukupi dan berbahagia daripada sebelumnya. Apakah Allah SWT. yang Mahakaya akan menjadi kikir terhadap para pensiunan, atau terhadap kakek-kakek dan nenek-nenek? Padahal, pensiun hanyalah salah satu episode hidup yang harus dijalani, yang tidak mempengaruhi janji dan kasih sayang Allah.
Maka, di dalam menghadapi persoalan apa pun jangan hanyut tenggelam dalam pikiran yang salah. Kita harus tenang, menguasai diri seraya merenungkan janji dan jaminan pertolongan Allah Swt. Bukankah kita sudah sering melalui masa-masa yang sangat sulit dan ternyata pada akhirnya bisa lolos?
Yakinlah bahwa Allah yang Mahatahu segalanya pasti telah mengukur ujian yang menimpa kita sesuai dengan dosis yang tepat dengan keadaan dan kemampuan kita. “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan, dan sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan” (QS Al-Insyirah [94]:5-6). Sampai dua kali Allah Swt menegaskan janji-Nya. Tidak mungkin dalam hidup ini terus menerus mendapatkan kesulitan karena dunia bukanlah neraka. Demikian juga tidak mungkin dalam hidup ini terus menerus memperoleh kelapangan dan kemudahan karena dunia bukanlah surga. Segalanya pasti akan ada akhirnya dan dipergilirkan dengan keadilan Allah Swt.
4. Evaluasi Diri
Ketahuilah, hidup ini bagaikan gaung di pegunungan: apa yang kita bunyikan, suara itu pulalah yang akan kembali kepada kita. Artinya, segala yang terjadi pada kita adalah buah dari apa yang kita lakukan. “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula” (QS Al-ZalZalah [99]: 7-8)
Allah Swt Maha Peka terhadap apapun yang kita lakukan. Dengan keadilan-Nya tidak akan ada yang meleset, siapa pun yang berbuat, sekecil dan setersembunyi apapun kebaikan, niscaya Allah Swt, akan membalas berlipat ganda dengan aneka bentuk yang terbaik menurut-Nya. Sebaliknya, kezaliman sehalus apapun yang kita lakukan yang tampaknya seperti menzalimi orang lain, padahal sesungguhnya menzalimi diri sendiri, akan mengundang bencana balasan dari Allah Swt, yang pasti lebih getir dan gawat. Naudzubillah.
Andaikata ada batu yang menghantam kening kita, selain hati harus ridha, kita pun harus merenung, mengapa Allah menimpakan batu ini tepat ke kening kita, padahal lapangan begitu luas dan kepala ini begitu kecil? Bisa jadi semua ini adalah peringatan bahwa kita sangat sering lalai bersujud, atau sujud kita lalai dari mengingat-Nya. Allah tidak menciptakan sesuatu dengan sia-sia, pasti segalanya ada hikmahnya.
Dompet hilang? Mengapa dari satu bus, hanya kita yang ditakdirkan hilang dompet? Jangan sibuk menyalahkan pencopet karena memang sudah jelas ia salah dan memang begitu pekerjaannya. Renungkankah: boleh jadi kita ini termasuk si kikir, si pelit, dan Allah Mahatahu jumlah zakat dan sedekah yang dikeluarkan. Tidak ada kesulitan bagi-Nya untuk mengambil apapun yang dititipkan kepada hamba-hamba-Nya.
Anak nakal, suami kurang betah di rumah dan kurang mesra, rezeki seret dan sulit, bibir sariawan terus menerus, atau apa saja kejadian yang menimpa dan dalam bentuk apapun adalah sarana yang paling tepat untuk mengevaluasi segala yang terjadi. Pasti ada hikmah tersendiri yang sangat bermanfaat, andaikata kita mau bersungguh-sungguh merenunginya dengan benar.
Jangan terjebak pada sikap yang hanya menyalahkan orang lain karena tindakan emosional seperti ini hanya sedikit sekali memberi nilai tambah bagi kepribadian kita. Bahkan, apabila tidak tepat dan berlebihan, akan menimbulkan kebencian dan masalah baru.
Ketahuilah dengan sungguh-sungguh, dengan mengubah diri, berarti pula kita mengubah orang lain. Camkan bahwa orang lain tidak hanya punya telinga, tetapi mereka pun memiliki mata, perasaan, pikiran yang dapat menilai siapa diri kita yang sebenarnya.
Jadikanlah setiap masalah sebagai sarana efektif untuk mengevaluasi dan memperbaiki diri karena hal itulah yang menjadi keuntungan bagi diri dan dapat mengundang pertolongan Allah Swt.
5. Hanya Allah-lah Satu satunya Penolong
Sesungguhnya tidak akan terjadi sesuatu kecuali dengan izin Allah Swt. Baik berupa musibah maupun nikmat. Walaupun bergabung jin dan manusia seluruhnya untuk mencelakakan kita, demi Allah tidak akan jatuh satu helai rambut pun tanpa izin-Nya. Begitu pun sebaliknya, walaupun bergabung jin dan manusia menjanjikan akan menolong atau memberi sesuatu, tidak pernah akan datang satu sen pun tanpa izin-Nya.
Mati-matian kita ikhtiar dan meminta bantuan siapapun, tanpa izin-Nya tak akan pernah terjadi yang kita harapkan. Maka, sebodoh-bodoh kita adalah orang yang paling berharap dan takut kepada selain Allah Swt. Itulah biang kesengsaraan dan biang menjauhnya pertolongan Allah Swt.
Ketahuilah, makhluk itu “La haula wala quwata illa billahil’ aliyyil ‘ azhim” tiada daya dan tiada upaya kecuali pertolongan Allah Yang MahaAgung. Asal kita hanyalah dari setetes sperma, ujungnya jadi bangkai, ke mana-mana membawa kotoran.
Allah menjanjikan dalam Surah Al-Thalaq ayat 2 dan 3, “Barang siapa yang bersungguh-sungguh mendekati Allah (bertaqwa), niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar bagi setiap urusannya, dan akan diberi rezeki dari tempat yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakal hanya kepada Allah, niscaya akan dicukupi segala kebutuhannya.”
Jika kita menyadari dan meyakininya, kita memiliki bekal yang sangat kukuh untuk mengarungi hidup ini, tidak pernah gentar menghadapi persoalan apapun karena sesungguhnya yang paling mengetahui struktur masalah kita yang sebenarnya berikut segala jalan keluar terbaik hanyalah Allah Swt Yang Mahasempurna. Dia sendiri berjanji akan memberi jalan keluar dari segala masalah, sepelik dan seberat apapun karena bagi Dia tidak ada yang rumit dan pelik, semuanya serba mudah dalam genggaman kekuasaan-Nya.
Pendek kata, jangan takut menghadapi masalah, tetapi takutlah tidak mendapat pertolongan Allah dalam menghadapinya. Tanpa pertolongan-Nya, kita akan terus berkelana dalam kesusahan, dari satu persoalan ke persoalan lain, tanpa nilai tambah bagi dunia dan akhirat kita・benar-benar suatu kerugian yang nyata.
Terimalah ucapan selamat berbahagia, bagi saudara-saudaraku yang taat kepada Allah dan semakin taat lagi ketika diberi kesusahan dan kesenangan, shalatnya terjaga, akhlaknya mulia, dermawan, hati bersih, dan larut dalam amal-amal yang disukai Allah.
InsyaAllah, masalah yang ada akan menjadi jalan pendidikan dan Allah yang akan semakin mematangkan diri, mendewasakan, menambah ilmu, meluaskan pengalaman, melipatgandakan ganjaran, dan menjadikan hidup ini jauh lebih bermutu, mulia, dan terhormat di dunia akhirat.
Semoga, dengan izin Allah, uraian ini ada manfaatnya.
 
Top